(cara berkarya dengan konsisten)
saya memaknai potensi sebagai sesuatu terpendam.
sederhananya, potensi itu minat dan bakat itu sendiri.
dan potensi manusia ini, sesuatu yang dicari dengan menggali dan ditemukan dengan ditempa.
Tapi ada satu hal yang sering mengubur potensi itu; Obsesi akan kesempurnaan.
Saya mengalaminya sendiri;
Folder draft yang menumpuk.
Ide-ide yang tak pernah lahir.
Karya yang terus tertunda
karena menunggu “sempurna”.
berbagai kata dan peribahasa bisa saya coba mention untuk topik ini,
tapi saya kira filosofi assitinajang/sitinaja lebih sesuai dengan topik ini
setidaknya bagi saya, ini sebuah konsep berkehidupan orang bugis
yang menekankan untuk terus tumbuh dan berkembang tapi tidak lupa untuk memijakkan kaki dibumi.
sitinaja berarti kepantasan, patut, cukup
sebuah counter concept yang bisa menepis “kesempurnaan”.
sama seperti untuk berkarya dan bertumbuh
kawan butuh waktu lama untuk menemukan cara untuk memahami maksud para kreator “matang” dengan mengatakan kunci dari berkarya itu “konsistensi”
tapi bagaimana mengatasi draft yang tidak sempurna?
skill yang tidak memadai dan ide yang tidak matang?
ditambah ketakutan dikritik audience,
yang berakhir dengan overthinking tak berujung untuk menciptakan karya sempurna.
1) Counter Mindset
(seperti saya) kawan butuh counter mindset dulu untuk mengatasi “sempurna”,
Pemahaman dasar untuk jadi pondasi berpikir saat “baru mulai berkarya”.
Bagi saya, untuk meng-counter konsep → harus dengan konsep
Konsep Kesempurnaan → Konsep Sitinaja
Jadi kawan harus paham dulu apa itu kesempurnaan.
Terutama definisi “karya” yang sempurna versi mu saat ini.
Apakah penyajian yang aesthetic, epic, super-spektakuler?
Yang mengarahkan cara berpikir pembaca?
Yang mudah mengubah pandangan audience?
Yang cepat mengarahkan pembeli untuk checkout?
Jabarkan dulu bagaimana kawan memaknai konsep “sempurna” itu.
Setelah memahami apa yang menghambat kita, saatnya saya kenalkan pada konsep yang membebaskan kita; Assitinajang.
2) Apa itu Assitinajang/Sitinaja
Sama seperti Kesempurnaan/sempurna, bagi saya Sitinaja itu juga konsep.
Sebuah cara berpikir yang memahami bahwa setiap karakter ada perannya,
setiap wujud ada wadahnya, dan setiap gabungan elemen ada komposisi pasnya.
Kalau mau ditelusui maknanya, Sitinaja itu berarti Kepantasan, kepatutan. Ini dijadikan sumber pedoman orang bugis dalam bermasyarakat;
1. Setiap orang harus bertindak sesuai dengan posisi dan kemampuannya.
2. Segala sesuatu harus ditempatkan pada proporsi yang tepat.
3. Seseorang harus mengetahui mana yang patut dan tidak patut dilakukan dalam konteks tertentu.
Secara konsep Sitinaja ini memahami timing dan komposisi yang pas.
sedangkan Sempurna itu konsep yang mengawang karena batasannya nggak jelas.
Dengan sitinaja, kawan perlu mengambil contoh tentang bagaimana karya “baru mulai” dari creator besar, Draft paling awal sang penulis terkenal dan apapun role model yang kawan ikuti → Lihat hasil karya pertamanya.
Sehingga kita bisa menetapkan batasan, kapan waktunya menganggap satu karya itu “cukup bagus”, evaluasi lalu bikin lagi (karya baru).
3) Berpikir Strategis
Pada akhirnya nggak bisa dipungkiri, Kita (setidaknya saya) merasa perlu mengejar sesuatu yang sempurna, walaupun saya tahu itu eutopia.
Tapi kita butuh tujuan, target. Sesuatu yang belum kita capai untuk mengarakan langkah dan aksi kita.
Sehingga dengan memahami Sitinaja dan Kesempurnaan kita masing-masing, kita sudah menemukan;
Kesempurnaan → sebagai Target/Goals
Sitinaja → sebagai Jalan/Path
Setidaknya dengan pemahaman dasar ini;
– Progress lebih terukur
– Fear Of Judgment berkurang
– Momentum terbangun natural
– Kreativitas mengalir lebih bebas
4) Minimum Viable Action (MVA)
Untuk penerapannya dalam eksekusi karya, saya coba merumuskan konsep MVA;
sebuah konsep yang terinspirasi dari MVP – Minimum Viable Product, sebuah strategi pengembangan produk dengan fokus memberikan nilai inti dari produknya saat di berikan kepada costumer/pengguna dengan terus meningkatkan nilainya melalui proses iterasi dan feedback dari costumer.
Dan nilai itu harus “Viable” – punya nilai kelayakan yang tervalidasi. Seperti bibit unggul yang punya peluang berkembang lebih tinggi.
Minimum Viable → Sederhana namun sudah tervalidasi.
Sehingga untuk penerapannya dengan sudut pandang Karya, kita gunakan konsep MVA.
Kita tetap butuh riset untuk menemukan nilai inti dari karya yang ingin kita buat.
Lalu dengan tampilan paling sederhana (sesuai kemampuan kita saat ini) karya itu mulai kita bagikan/post.
Kira-kira seperti ini;
- Minimum Viable: Ada kemasan sederhana & Nilai yang layak (Sitinaja)
- Tetapkan standar “Cukup Bagus” sesuai konsep Sitinaja (sekitar 70% dari standar “sempurna”mu)
- Cukup untuk menyampaikan nilai inti
- 1 insight yang aplikatif
- 1 cerita yang relatable
- 1 tahapan aksi yang jelas
- Bisa diselesaikan dalam waktu singkat
- Action: Eksekusi Cepat
- Set timer 15 menit → bisa gunakan teknik podomoro atau time boxing
- First draft: 10 menit
- Quick edit: 5 menit
Inti yang perlu kawan ingat:
Minimum bukan berarti seadanya
Viable bukan berarti sempurna
dan Action adalah kuncinya.
Hasil tidak menghianati usaha
Dalam prosesnya, kita akan semakin akrab dengan ketidaksempurnaan. Memahami diri kita sendiri, batasannya dan kepatutannya (assitinajang) dalam mengambil peran di era digital ini.
dan yang terpenting;
seperti compound effect,
setiap draft yang terpublikasi akan memberikan pembelajaran baru.
Setiap feedback membuka perspektif baru.
Setiap kesalahan membawa pemahaman baru.
Tantangan untukmu minggu ini
Jadi tantangannya begini, kamu harus segera:
- Buka file draft karyamu (Tulisan, Video, Audio)
- Pilih satu yang “hampir jadi”
- Sunting 30 menit → implementasi framework MVA
- Share/Post → terulangi dan evaluasi
Pahami selalu bahwa;
kalau saya menunggu sempurna,
saya malah tidak bisa menjadi apapun.
karena pada akhirya saya harus memulai dulu,
baru bisa punya skill memadai, karya matang dan pembaca yang terinspirasi.
Tabik,
Mātekkoé
