Nawala Mātekkoé

Edisi

Menemukan Keberanian untuk Merealisasikan Mimpi

(kisah dibalik mimpi yang tertunda)

waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun lalu,
waktu terbaik kedua adalah hari ini

unknown~

Berapa lama lagi kita akan terus menunda?
Menjadikan mimpi angan-angan tak berkesudahan

Kita semua terlalu terbiasa mengabaikan mimpi
menyimpannya dipeti dan terus mengenang-ngenang

Terkubur dipertanyaan “mulai dari mana?”
Pertanyaan yang justru menjadi tembok penghalang dan menghambat kita melangkah.

Tapi tahu nggak?
Mimpi yang sekalipun sudah dikubur itu tidak pernah mati.
Suatu saat, tanpa terasa sudah bangkit menjadi penyesalan.

orang bugis menyebutnya “sesse’ kale”:
sebuah perasaan sesak yang menggerogoti tubuh,
yang bahkan dengan perlahan membunuh diri kita.

Daripada berakhir jadi mayat hidup begitu,
saya mencoba menggali lagi apa yang sudah saya lakukan sejauh ini,
serta bagaimana mind switch mengubah proses dan
cara merealisasikan ide-ide dikepala.

Dengan begitu, kita sama sama punya peluang
untuk tidak terjebak dan berakhir menyesal

Tiga Kunci Merealisasikan Mimpi yang Tertunda

1) Jangan Terjebak, Terus Bergerak

Ada perbedaan besar antara “tidak tahu” dan “mencari tahu”.

Kalau kebanyakan orang terhenti di pertanyaan “mulai dari mana?”, saya menemukan bahwa menanggapinya bukan dengan berhenti dan menjebak diri sendiri.

Tapi ketika pertanyaan itu muncul, justru saat itulah kita harus mulai pergerakan konstan. Karena dengan adanya pertanyaan begitu, pertanda kalau kita sudah menstimulasi rasa penasaran kita.

Saya juga pernah membaca soal “selective attention” sebuah kemampuan kognitif bawaan yang cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal yang terus kita pikirkan. Ini fenomena neurologis yang jelas dan bukan sekedar “Law of Attraction”,

Jadi pilihan yang bisa dilakukan agar tidak terjebak, bisa dengan:

  • Terus memikirkan mimpi kita agar otak lebih sensitif dengan peluang dan informasi yang berkaitan.
  • Terus mencari tahu bisa membuka jalur-jalur pemahaman dan mengembangkan wawasan kita.

Dan dalam proses mencari tahu itu, saya menemukan bahwa ada framework yang jelas dalam mewujudkan mimpi. Akan ada tahap – tahap sebelum target itu tercapai.

Ada persiapan, membuat mitigasi, pentingnya untuk selalu evaluasi, disituasi tertentu perlu improvisasi dan pasti akan terus berlangsung siklus gagal – belajar – gagal, dan itu wajar.

Sebab dalam proses dan belajar itu sendiri sudah dipastikan akan selalu ada tahap gagalnya. Karena dengan gagal, tercipta pemahaman baru dan pengetahuan yang benar untuk melakukannya.

Yang dengan pengetahuan setelah gagal itu, tercipta jalan yang lebih jelas untuk terus maju dan di sanalah tercipta wujud baru, wujud yang disering disebut perkembangan.

2) Pilihlah Gagal daripada Menyesal

Seperti kata Pandji Pragiwaksono “Jangan bunuh mimpimu, karena sekalipun mimpi itu dikubur, suatu saat akan bangkit jadi penyesalan”.

Sebagai orang bugis, saya mengenal ini dengan konsep “Sesse’ Kale” (rasa sesak mendalam) memiliki makna yang jauh lebih ngilu dari sekedar “rasa sesal”. Ini bisa jadi manifestasi psikologis dan spiritual dari pilihan yang tidak kita ambil:

  • Layaknya luka, berbekas dan sulit dihilangkan
  • Sakit tapi tidak berdarah, Semakin dipikirkan semakin sakit
  • Semakin ingin dilupakan semakin menghantui

Pemahaman ini yang akhirnya membuat saya mengambil pendekatan berbeda:

  • Melihat kegagalan sebagai proses pembelajaran, bukan akhir perjalanan
  • Memberikan diri sendiri kesempatan untuk belajar dan berproses
  • Menghindari akumulasi penyesalan yang bisa membebani jiwa

Toh umur nggak ada yang tahu, sama kaya belum tentu gagal saat dicoba.
Jadi dengan segala macam peluang
saya merasa lebih baik gagal saja daripada menyesal disisa umur.

3) Mencari kebenaran, Menemukan kebijaksanaan

Dalam setiap proses ada progress, dalam setiap pencarian ada titik temunya.

Guru saya sering mengatakan bahwa dalam proses mencari tahu, kita selalu mengharapkan kebenaran.

Menariknya, semakin dalam kita menggali pengetahuan itu, semakin kita temukan bahwa ilmu itu seperti sungai yang bermuara kelautan – selalu mengarah pada satu muara yang sama.

Hal ini sekaligus memunculkan kesadaran bahwa pada akhirnya arah pencarian kita tertuju pada satu sumber kebenaran. kesadaran bahwa kita ini makhluk yang memiliki pencipta.

Seperti pepatah Arab: “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” – Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.

Pencarian kebenaran sejati selalu membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita dan hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Kekuatan dibalik ketidaktahuan,

Paradoks ini sama seperti dalil yang bilang kalau kita akan dapat pahala dua kali disaat belajar membaca Al-Quran dibanding membacanya dengan fasih.

Inilah juga yang bikin saya bersyukur,
bahwa dalam setiap ketidaktahuan kita ada doa yang bisa kita panjatkan,

ada yang memberi ketenangan
walaupun kita banyak tidak tahunya,

ada yang memberi kelapangan
walaupun kita banyak gelisahnya,

ada yang memberi titik terang
walaupun kita banyak titik butanya.

Tidak begitu banyak yang bisa saya jabarkan,
Semoga impian-impian kawan itu tidak lagi berakhir dengan mudah

Tabik,
Mātekkoé

Tulisan ini bagian dari Jurnal perjalanan saya, membahas seputar potensi manusia dan era digital.

Supaya kawan dapat update rutin dari jurnal perjalanan ini, kawan bisa:

Atau dengarkan via Podcast