WADAH

saya pernah post ini

pokok pikirannya bahwa manusia itu seumpama wadah,
wadah yang sudah dipastikan akan menerima “rezeki”

dan menurut keyakinan saya, rupa dan jenis dari rezeki itu ditentukan wadah penerimanya.

misal sebuah cangkir tidak bisa menampung buah semangka,
tapi kalau semangkanya di jus? bisa dengan nikmat diseruput.

begitu juga piring, tidak ideal menampung indomie soto.
tapi kalo mie goreng pake telur, yah enak.

sehingga dipikiran saya, rezeki itu selalu datang sesuai kesiapan kita
sama seperti cobaan hidup, beradnya, sulitnya, gundahnya sesuai kemampuan kita.

termasuk soal pasangan/jodoh, harta/kekayaan juga jabatan/pekerjaan.

kan katanya pasangan itu adalah cerminan diri dan idealnya sekufu.

juga soal menjadi kaya, apakah kita sudah pandai mengelola keuangan? apakah saat punya, kita kikir atau dermawan? jangan sampai harta itu hanya membuat kita semakin jauh dari rahmat-Nya

dan yang krusial soal jabatan, apa kita kompeten? ada skill atau basic skill-nya? tujuan kerjanya apa? untuk maslahat atau keuntungan pribadi?

karena itu saya merasa wajib sering sering ukur diri biar tahu diri,
karena amanah besar selalu datang bersama tanggung jawab lebih berad. apalagi mau bicara soal kemelekatan, padahal semua hanya titipan.